Akhlak Berbicara

Berbagi :
akhlak berbicara

Akhlak Berbicara


Imam Al-Ghozali berpendapat, akhlak ialah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang menimbulkan segala perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan16. Pendapat lain ahklak yaitu pengetahuan tentang baik dan buruk yang perlu ada dalam pergaulan umat manusia yang menjelaskan tata cara dan tujuan yang harus dicapai dalam semua tingkah lakunya[1].

Sedang menurut Prof. Dr. Ahmad Amin ahklah mengandung arti; “Pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang harus diperbuat[2]. Adapun yang dimaksud dengan ahklak berbicara adalah tata cara / etika / sopan santun / pengetahuan baik maupun buruk yang ada dalam menjalin komunikasi dengan orang lain.

Sebagian orang berpendapat bahwa akhlak berbicara itu merupakan suatu bentuk kemaslahatan masyarakat manusia yang tercermin dalam adat istiadat individu untuk memudahkan dalam berkomunikasi dan juga untuk menjalin kerjasama dalam masyarakat. Pada hakikatnya kepribadian manusia itu terletak pada keindahan akhlak, setiap kali ia meningkatkan kesediaan tanggung jawab serta menahan diri pada batasbatas akhlak, khususnya ahklak berbicara dalam lingkungan pergaulan. Adapun
pelaksanaan ahklak berbicara dalam lingkungan pergaulan ini meliputi seluruh aspek kehidupan perorangan maupun kemasyarakatan[3].

Klasifikasi Akhlak Berbicara :
Secara garis besar akhlak berbicara dalam lingkungan pergaulan seseorang dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut:

a. Akhlak Berbicara Yang Tepuji (mulia)
Sesungguhnya ahklak bicara yang bersifat terpuji ini bersumber dari hati yang suci dan jiwa yang bersih. Barangsiapa bisa melaksanakan akhlak-akhlak terpuji ini dalam lingkungan kehidupannya maka segala pertolongan Allah pasti akan menyertai orang tersebut[4]. Adapun contoh dari akhlak mulia (terpuji) ini secara garis sudah dijelaskan oleh Al-Qur’an yaitu antara lain:
• Menyampaikan amanat,
• Selalu berharap kepada Allah
• Menepati janji
• Suka bertaubat
• Menjaga rahasia
• Memiliki sifat malu
• Suka bersyukur atas nikmat Allah
• Menjaga kehormatan diri dengan meninggalkan perkataan yang tercela
• Memaafkan orang yang punya salah.
• Berbuat bagus dalam segala tindakan dan perkataan

b. Akhlak Berbicara Yang Buruk (Tercela)
Akhlak berbicara yang buruk, salah dan tercela ini bersumber dari hati yang picik dan jiwa yang kotor. Syetan sangat senang bila manusia itu tidak memiliki ahklak atau sopan santun dalam berbicara. Dan sungguh celaka manusia yang tidak
bisa meninggalkan akhlak buruk dan tercela inidalam kehidupannya, maka tunggulah segala azab dan balasan Allah pasti akan segera datang[5]. Adapun macam-macam dari akhlak berbicara buruk ini antara lain:
• Sombong (Takabur) dan berbangga-banggaan
• Berprasangka buruk dan suka menghasud terhadap orang lain,
• Berdusta dalam berbicara
• Menyebarluaskan kejelekan orang lain
• Berbantah-bantahan dan Permusuhan
• Mengingkit-ungkit kebaikan
• Memanggil seseorang dengan nama julukan yang jelek.
• Mengejek, mencaci maki, dan mengolok-olok
• Mengumpat
• Melanggar janji
• Mengadu domba
• Suka marah-marah
• Bertetika buruk dengan Allah.

Akhlak bicara adalah salah satu bidang ikhtiar manusia, jadi akhlak berbicara dapat diubah dari buruk menjadi baik dan begitu sebaliknya dari baik menjadi buruk, karena itu sebagai orang yang beriman kita harus berhati-hati dalam memilih
lingkungan pergaulan dalam kehidupan.

Faktor yang mempengaruhi Akhlak Berbicara :
Adapun factor yang bisa mempengaruhi ahklak berbicara seseorang adalah :
o Adat kebiasaan
o Lingkungan pergaulan
o Asal daerah meliputi suku, ras, dan kondisi daerah tempat tinggal
o Pendidikan dan ilmu pengetahuan
o Pendidikan agama

Ayat Al-Qur'an Tentang AKhlak Berbicara :

“Dan Katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”(QS. Al-Israa’: 53)

“Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang Terpuji.(QS. Al-Hajj: 24)


PUSTAKA :
[1] Drs. Kahar Masyhur. Membina Moral Dan Akhlak (Jakarta, PT. Rineka cipta,1994), 1-3
[2] Prof. Dr. Ahmadamin. Etika (Ilmu Akhlak) (Jakarta: Bulan Bintang , 1995), 2-3
[3] Syekh Muhammad Al-Ghozali. (Kuwait; Darul Bayan) hal 34 ataub lihat Drs. H. Anwar Masy’ari. M.A Ahklaq Al-Qur’an ( Surabaya; PT Bina Ilmu.1990) hal 5
[4] Muhammad Idris Jauhari. Adap Sopan Santun. (Madura, Penerbit Mutiara; 1999). Hal 3
[5] Ibid

Daftar Isi [Tutup]

    Lebih baru
    Lebih lama