Gangguan dalam Perkembangan Jiwa Keagamaan

Berbagi :

Agama menyangkut kehidupan batin manusia yang menggambarkan tentang sesuatu yang sakral. Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama, yaitu integrasi secara kompleks antara pengetahuan agama, perasaan agama, serta tindak keagamaan dalam diri seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa sikap keagamaan berhubungan erat dengan gejala kejiwaan seseorang.

Beranjak dari kenyataan yang ada, sikap keagamaan terbentuk oleh dua faktor, yaitu faktor intern dan ekstern yang sangat mempengaruhi terhadap perkembangan jiwa keagamaan seseorang.


A. Faktor Intern

1. Faktor Hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara lagsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan turun temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, efektif dan konatif. Tetapi dalam penelitian terhadap janin terungkap bahwa makanan dan perasaan ibu berperngaruh terhadap kondisi janin yang dikandungnya.

Demikian pula Margareth Mead mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa terdapat hubungan antara cara menyusui dengan sikap bayi, bayi yang disusukan secara tergesa-gesa menampilkan sosok yang agresif, sedangkan bayi yang disusukan secara wajar dan tenang akan menampilkan sikap toleran dimasa remajanya.

Selain itu Rasululloh juga menganjurkan untuk memilih pasangan hidup yang baik dalam membina rumah tangga, sebab menurut beliau keturunan berpengaruh (As-Syaibany,1979:140). Benih yang berasal dari keturunan tercela dapat mempengaruhi sifat-sifat keturunan berikutnya. Seperti sebagaimana menurut Rasululloh :”Hati-hhatilah dengan Hadra Al-Diman yaitu wanita cantik dari lingkungan yang jelek” (Syayid Mujtaba dan Musawi Lari, 1977:93).

Meskipun belum dilakukan penelitian mengenai hubungan antara sifat-sifat kejiwaan anak dengan orangtuanya, namun tampaknya pengaruh tersebut dapat dilihat dari hubungan emosional.

2. Tingkat Usia
Dalam bukunya The Development Of Religious on Children Ernes Harms mengungkapkan bahwa perkembangan agama pada anak ditentukan oleh tingkat usia mereka. Tingkat perkembangan usia dan kondisi yang dialami para remaja ini menimbulkan konflik kejiwaan yang cenderung mempengaruhi terjadinya konversi agama. Hubungan antara perkembangan usia dengan perkembangan jiwa keagamaan tampaknya tidak dapat dihilangkan begitu saja. Bila konversi lebih dipengaruhi oleh sugesti, maka konversi akan lebih banyak terjadi pada anak-anak. Namun pada kenyataannya hingga usia bayapun masih terjadi konversi agama.

Berbagai penelitian psikologi agama menunjukkan adanya hubungan antara tingkat usia dengan perkembangan jiwa keagamaan, meskipun faktor usia bukan merupakan faktor satu-satunya sebagai penentu perkembangan jiwa keagamaan seseorang. Namun pada kenyataannya ini dapat dilihat dari adanya perbedaan pemahaman agama pada tingkat usia yang berbeda.

3. Kepribadian
Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur, yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara unsur hereditas dengan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk kepribadian (Arno F. Wittig,1977:238). Adanya kedua unsur yang membentuk kepribadian itu menyebabkan munculnya konsep tipologi dan karakter. Tipologi lebih ditekankan kepada unsur bawaan, sedangkan karakter lebih ditekankan oleh adanya pengaruh lingkungan.

Unsur pertama (bawaan) merupakan faktor intern yang memberi ciri khas pada diri seseorang, dalam kaitan ini kepribadian sering disebut sebagai identitas atau jati diri seseorang yang sedikit banyaknya menampilkan ciri-ciri pembeda dari individu lain diluar dirinya, dan perbedaan ini yang diperkirakan mempengaruhi perkembangan aspek-aspek kejiwaan termasuk jiwa keagamaan.

4. Kondisi Kejiwaan
Kondisi kejiwaan ini terkait dengan kepribadian sebagai faktor intern. Konflik akan menjadi sumber gejala kejiwaan yang abnormal. Selanjutnya menurut pendekatan biomedis fungsi tubuh yang dominan mempengaruhi kondisi jiwa seseorang. Dengan demikian sikap manusia ditentukan oleh stimulus (rangsangan) lingkungan yang dihadapinya pada saat itu. Pendekatan pendekatan psikologi kepribadian ini menginformasikan bagaimana hubungan kepribadian dengan kondisi kejiwaan manusia, tetapi yang paling penting untuk dicermati adalah hubungannya dengan perkembangan jiwa keagamaan, karena menurut pendekatan-pendekatan diatas selanjutnya mengungkapkan bahwa ada suatu kondisi kejiwaan yang cenderung bersifat permanen yang terkadang bersifat menyimpang.

B. Faktor Ekstern
Faktor ekstern yang dinilai mampu mempengaruhi perkembangan jiwa keagamaan pada diri seseorang diantaranya adalah :

1. Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan fase sosialisasi awal bagi pembentukan jiwa keagamaan anak, Sigmun Freud dengan konsep Father Image (Citra Kebapaan) menyatakan bahwa pperkembangan jiwa keagamaan anak dipengaruhi oleh citra anak terhadap ayahnya, jika seorang ayah menunjukkan sikap dan perilaku yang baik maka anak pun akan cenderung mengidentifikasikan sikap sang ayah kepada dirinya, begitu juga sebaliknya. Keluarga dinilai sebagai faktor yang paling dominan dalam meletakkan dasar bagi perkembangan jiwa keagamaan.

2. Lingkungan Institusional
Lingkungan institusional yang ikut mempengaruhi terhadap perkembangan jiwa keagamaan seeorang yaitu dapat berupa institusi formal seperti sekolah ataupun yang non formal seperti berbagai organisasi dan perkumpulan, dan dalam lingkungan formal seperti sekolah guru sebagai pendidik dan pergaulan antar teman menjadi salahsatu yang berperan penting dalam menanamkan kebiasaan yang baik. Pembiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan seseorang.

3. Lingkungan Masyarakat
Berbeda dengan dirumah ataupun disekolah, pada lingkungan masyarakat biasanya cenderung kurang menekankan kepada disiplin atau aturan yang harus dipatuhi secara ketat. Sepintas lingkungan masyarakat bukan merupakan lingkungan yang mengandung unsur tanggung jawab, melainkan henya merupakan unsur pengaruh belaka (Sutari Imam Barnadib, 1987:117). Kondisi lingkungan masyarakat ini dinilai turut mempengaruhi kondisi jiwa keagamaan masyarakatnya.


C. Fanatisme dan Ketaatan
Suatu tradisi keagamaan dapat menimbulkan dua sisi dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang, yaitu fanatisme dan ketaatan. David Riesman melihat ada tiga model konfirmitas karakter, yaitu : (1).Arahan tradisi (Traditional Directed) (2).Arahan dalam (inner Directed), (3). Arahan orang lain (Other Directed)

Pendapat tersebut mengungkapkan bahwa karakter terbentuk oleh pengaruh lingkungan, dan dalam pembentukan kepribadian aspek emosional dipandang sebagai unsur yang dominan. Fanatisme dan ketaatan terhadap ajaran agama sepertinya tidak dapat dilepaskan dari peran aspek emosional. David Riesman melihat bahwa tradisi kultural sering dijadikan penentu dimana seeorang harus melakukan apa yang telah dilakukan oleh nenek moyang (Philip K. Back,1980:121). Sifat fanatisme dinilai merugikan bagi kehidupan beragama dan sifat ini dibedakan dari sifat ketaatan, karena ketaatan merupakan upaya untuk menampilkan arahan dalam (Inner Directed) dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama, bukan karena arahan tradisi (Traditional Directed) ataupun arahan orang lain (Other Directed).

Daftar Isi [Tutup]

    Lebih baru
    Lebih lama