Anak Berbakat

Berbagi :
Istilah anak berbakat yang yang diterjemahkan dari ‘gifted child’. Sebutan lain dari anak berbakat (gifted) misalnya genius, bright, creative, dan talented. Satu ciri yang paling umum diterima sebagai ciri anak berbakat yaitu memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada anak normal, sebagaimana diukur oleh alat ukur kecerdasan (IQ) yang sudah baku yang disebut dengan pandangan yang berdimensi tunggal tentang anak berbakat.

Sementara pandangan lain yaitu pandangan yang berdasarkan dari sudut pandang berdimensi ganda. Menurut pandangan ini keterbakatan tidak hanya ditinjau dari segi kecerdasan tapi juga dilihat dari segi prestasi, kreativitas, dan karakteristik pribadi/sosial lainnya; dilihat dari segi kemampuan yang bersifat potensial maupun aktual (prestasi).
Hasil penelitian dan pengamatan dari para ahli menunjukkan bahwa anak berbakat memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda dari anak lain pada umumnya. Karakteristik dan kebutuhan yang mencakup aspek aspek : intelektual, akademik, kreativitas, kepemimpinan, dan sosial, seni, afeksi, sensoris fisik, intuisi, dan ekologis.

•Perkembangan fisik
Kecendrungan bahwa secara fisik anak berbakat lebih kuat, lebih besar, dan lebih sehat dari anak normal. Reaksi-reaksi fisik terjadi lebih cepat dan lebih awal dari anak-anak biasa karena secara intelektual dia lebih mampu menyerap informasi dan stimulus dari luar. Perkembangan psikomotorik dan kemampuan koordinasi anak berbakat cenderung lebih cepat dari rata-rata. Dengan melihat karakteristik dan kebutuhan (sensasi) fisik anak berbakat, maka program pendidikan bagi mereka sepatutnya mempertimbangkan kebutuhan untuk : melakukan aktivitas yang mungkin terjadi integrasi dan asimilasi data sensoris, apresiasi kapasitas fisik, menjelajahi aktivitas fisik yang menimbulkan kesenangan dan kepuasan, menjelajahi aktivitas yang mengarah kepada keterpaduan antara pikiran dan badan.

•Perkembangan kognitif
Para ahli dengan penelitiannya menunjukkan bahwa secara biologis memang adanya perbedaan struktur otak anatara anak berbakat dengan anak normal. Anak berbakat mampu memfungsikan dua belahan otak (otak kiri dan otak kanan) sebagai alat berpikir dan seluruh fungsi-fungsi lain(rasa, penginderaan, dan intuisi)secara terintegrasi sehingga mewujudkan perilaku kreatif. Anak berbakat secara intelektual menunjukkan kemampuan berpikir analitis, intergratif, dan evaluatif, beriorientasi pemecahan masalah, kemampuan verbal yang tinggi, serba ingin sempurna(perfectionis), memiliki cara lain dalam memahami dan mengolah informasi, memiliki fleksibilitas berpikir, dan kompetensi tinggi untuk berprestasi yang baik.

Menurut Treffinger (1980) bahwa anak berbakat memiliki karakteristik yaitu :
1. Rasa ingin tahu
2. Berimaginasi
3. Produktif
4. Independen dalam berpikir dan menilai
5. Memiliki ketekunan
6. Bersikukuh dalam menyelesaikan masalah
7. Berkonsentrasi kemasa depan dan hal-hal yang belum diketahui.

Sementara menurut Hoyle dan Wiks mendeskripsikan bahwa anak-anak berbakat menampilkan ciri-ciri perkembangan fisik sebagai berikut :

1. Memiliki kemampuan berpikir superior, berpikir abstrak, menggenaralisir fakta, memahami makna dan hubungan.
2. Memiliki hasrat ingin tahu
3. Bersikap mudah untuk belajar
4. Memiliki rentan minat yang luas
5. Memiliki kecakapan bekerja secara efektif dan mandiri
6. Mampu mengingat secara cepat
7. Mampu membaca cepat
8. Memiliki imajinasi yang luar biasa
9. Menunjukkan inisiatif dan originalitas pekerjaan intelektual
10. Memiliki berbagai hobi

Apabila karakterisitik tersebut tidak tersalurkan sebagaimana mestinya maka akan muncul masalah-masalah perkembangan berupa : kebosanan terhadap pelajaran reguler, kesulitan hubungan sosial dalam kelompok seusianya, sulit berkonformitas pada kelompok.
Perkembangan kognitif anak berbakat juga disertai dengan perkembangan kemampuan intuitif yang akan mengarah kepada pemunculan perilaku kreatif. Kaitan intuitif dengan perilaku kreatif yaitu bahwa fungsi intuisi berperan dalam pemunculan inisiatif, imajinasi, dan wawasan yang mengarah ke perilaku kreatif. Keunikan intiusi dari anak berbakat yaitu untuk terlibat dan peduli terhadap pengetahuan intitif dan fenomena-fenomena metafisik, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman metafisis, dan menunjukkan perilaku kreatif.

•Perkembangan emosi
Perkembangan emosi anak berbakat cenderung menunjukkan kekukuhan dalam pendirian, yang berarti adanya kepercayaan diri yang kuat dalam upaya mencapai hasil, peka terhadap sekitar, dan senang terhadap hal-hal yang baru. Tapi terdapat kecendrungan negatifnya yaitu mudah tersinggung, sikapnya egois, dan mungkin sulit dalam penyesuaian diri.

•Perkembangan sosial
Anak berbakat cenderung menunjukkan kematangan sosial dan kemampuan kepemimpinan yang lebih awal atau lebih tinggi dari anak-anak normal. Clark menyimpulkan perkembangan sosial dan emosional anak berbakat yaitu:

1. Anak berbakat merasa lebih senang dan puas dengan keadaan dirinya sendiri dan hubungan antarpribadinya. Mereka mempersepsikan dirinya memiliki kebebasan pribadi yang besar dari kawan-kawannya.
2. Anak berbakat menunjukkan kecakapan kepemimpinan dan terlibat dalam kegiatan dan kepedulian sosial. Kepedulian akan masalah-masalah umum dan kesejahteraan orang lain.
3. Anak berbakat lebih cenderung memilih kawan yang memiliki kesebayaan usia intelektual daripada memilih kawan secara kronologis berada pada usia sama.
Karakteristik perkembangan sosial anak berbakat dapat menimbulkan perilaku bermasalah seperti frustasi atas perasaan-perasaan yang tak tertantang, potensi kepemimpinan yang tak berkembang karena mungkin tidak memperoleh kesempatan, kecendrungan mengambil pemecahan masalah secara cepat tanpa memperhitungkan kompleksitas masalah tersebut. Untuk itu program pendidikan bagi anak berbakat hendaknya mengakomodasikan kebutuhan akan pemahaman aktualisasi diri, penyaluran dorongan-dorongan yang divergen, keterlibatan dalam masalah-masalah sosial, dll.
Identifikasi anak berbakat diawali dengan pengujian kemampuan intelektual. Beberapa kemungkinan teknik identifikasi anak berbakat yang dapat dilakukan sekolah yaitu:
a. Penggunaan tes kecerdasan
Misalnya menggunakan WISC( Weschler Intelligence Scale For Children) yaitu tes kecerdasan individual untuk mengetahui keterbakatan.
b. Studi kasus
Identifikasi anak berbakat dengan cara mendapatkan informasi dari berbagai sumber baik orangtua, guru, teman sebaya, atau pihak lain yang dianggap mengetahui anak tersebut. Menggunakan wawancara, pengamatan, pencatatan, dan studi dokumentasi yang berkenaan dengan riwayat perkembangan anak.

Daftar Pustaka :
Soemantri, T. Sutjihati.(2007). Psikologi Anak Luar Biasa. Jakarta: Refika aditama.

Daftar Isi [Tutup]

    Lebih baru
    Lebih lama